Deddy Mizwar, Nasionalisme Naga Bonar
”...Dan (bagaimana) caranya menyuburkan Nasionalisme itu? Jalannya menghidupkannya ? Jalannya adalah tiga :
Pertama, kami menunjukkan kepada rakyat, bahwa ia punya hari dulu, adalah hari dulu yang indah.
Kedua, kami menambah keinsyafan rakyat, bahwa ia punya hari sekarang, hari sekarang yang gelap.
Ketiga, kami memperlihatkan kepada rakyat sinarnya
hari kemudian yang berseri-seri dan terang cuaca, beserta cara-caranya
mendatangkan hari kemudian yang penuh dengan janji-janji itu!
Sukarno, Bapak Bangsa Indonesia
”Indonesia Menggugat”, Membangkitkan Nasionalisme, 1929.
Kenapa Kita Mencintai Indonesia?
Bayangkan bagaimana Sukarno,
Hatta,
Syahrir, Agus Salim, yang begitu dahsyat kekuatannya, sehingga mampu
mempersatukan seluruh Indonesia, menciptakan salahsatu bangsa terbesar
di dunia, sekaligus menjatuhkan kekuatan bangsa-bangsa imperialis
terkuat di dunia.
Sukarno membuat pembelaannya yang spektakuler, Indonesia Menggugat, saat usianya baru 29 tahun (1930). Mohammad Hatta sudah menjadi ketua "Perhimpunan Indonesia" di Belanda waktu umurnya masih 23 tahun (1925).
Indonesia,
sekarang adalah bangsa ke-4 terbesar di seluruh dunia, setelah China,
India, dan Amerika. Kita jauh lebih besar dari Belanda dan Jepang yang
pernah menjajah kita. Dan kalau anda perhatikan, Indonesia jelas lebih
kompleks dari semua bangsa itu, sukunya sangat beragam, bahasanya pun
berbeda-beda. Darimana datangnya kekuatan raksasa itu?
Jenderal Sudirman, di tahun 1945 itu umurnya baru 30 tahun. Dia mungkin adalah salahsatu pemimpin perang termuda dan terbesar di dunia setara Alexander the Great
dan Napoleon. Salahsatu kemenangannya yang gemilang adalah di Ambarawa
saat pasukannya berhasil mengusir militer Inggris dari kota itu. Dan
Inggris, saat itu adalah bangsa imperialis terbesar di dunia.
Bahkan
hanya dengan satu paru-parunya yang berfungsi, dan harus ditandu keluar
masuk hutan, naik turun gunung, Jenderal Sudirman mampu membawa
kemenangan besar bagi pasukan Indonesia atas tentara imperialis Sekutu
yang memiliki sistem persenjataan super modern.
Ini menjadi lebih spektakuler lagi karena Sudirman sebelumnya hanya seorang guru di Muhammadiyah,
padahal Inggris dipimpin oleh Jenderal-jenderal yang sangat
berpengalaman dalam peperangan di seluruh dunia selama ratusan tahun.
Tapi Sudirman dan pasukannya yang berani mati mampu menghancurkan mereka
semua, dan mendorong lahirnya sebuah bangsa raksasa.
Bung Tomo, saat perang besar Surabaya 10 November, umurnya baru 25 tahun.
Perlawanan arek-arek Surabaya begitu dahsyatnya, sehingga Belanda yang
didukung Inggris (yang pernah menguasai seluruh dunia) di peperangan
raksasa itulah mulai ragu untuk bisa kembali menguasai tanah Indonesia.
Kenapa
kekuatan mereka begitu hebatnya? Kenapa mereka sampai mau mengorbankan
darah dan nyawanya demi bangsa dan negara? Kenapa keberanian mereka
begitu hebatnya, seakan-akan tidak takut mati, sampai para
tentara-tentara paling terlatih di dunia dan berpersenjataan modern bisa
bergetar ketakutan?
Dari mana kekuatan itu datangnya? Kenapa jiwa besar yang begitu hebat itu sekarang bisa nyaris hilang?

Kekuatan Raksasa Nasionalisme
”Oleh
karena rasa kebangsaanlah, maka bangsa-bangsa yang terbelakang lekas
mencapai peradaban, kebesaran dan kekuasaan. Rasa kebangsaanlah yang
menjadi darah yang mengalir dalam urat-urat bangsa-bangsa yang kuat, dan
rasa kebangsaanlah yang memberi hidup kepada tiap-tiap manusia yang
hidup.”
Sukarno, mengutip Mustafa Kamil (tokoh pejuang Mesir), Indonesia Menggugat.
Jiwa
Nasionalisme-lah yang membuat sebuah bangsa mau berjuang sedemikian
hebatnya. Cinta pada bangsa, adalah kekuatan besar yang membuat ratusan
juta rakyat bangkit, dan berjuang menjadikan bangsanya besar dan
terhormat di mata dunia. Patriotisme membuat kita berkorban demi bangsa.
Kita akan berkorban apapun, karena cinta yang besar itu.
Kalau
kita ingin bangsa ini kembali kuat dan mampu bangkit menjadi besar, maka
Nasionalisme, rasa cinta pada bangsa harus ditumbuhkan besar-besaran.
Tapi
darimana cinta itu datang? Cinta pada Indonesia. Nasionalisme.
Patriotisme. Bagaimana kekuatan besar itu, bisa dibangkitkan lagi?
Ini
adalah zaman yang berbeda dengan zaman Indonesia dulu. Bahkan Naga
Bonar (Naga Bonar Jadi 2) dalam filmnya mempertanyakannya pada Bonaga,
anaknya. ” Mengapa aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang tidak
kumengerti tapi berusaha kupahami karena aku sangat mencintaimu”, kata
Naga Bonar.
Ini adalah zaman, dimana kadang kita sulit menemukan
arti mencintai bangsa ini. Kita bahkan sulit mencintai para pejuang
veteran yang sudah memberikan bangsa ini kemerdekaannya. Mereka, para
pembela kemerdekaan itu, yang sekarang sudah berusia lanjut, banyak yang
hidup terlunta-lunta, tanpa penghasilan yang jelas, tanpa penghargaan,
dan seringkali tanpa teman. Sesuatu yang pastinya akan membuat seorang
Deddy Mizwar terharu dan sedih.
Tapi tentu kita tidak akan
bersedih-sedih. Kita adalah bangsa yang penuh semangat. Bangsa ini masih
banyak kekurangannya, tapi kelebihannya pun juga sudah makin banyak.
Kemajuan
terjadi di segala bidang. Potensinya makin besar. Bahkan Lembaga
keuangan terkemuka Morgan Stanley pun sudah berani menyatakan Indonesia
bisa segera menjadi salahsatu anggota BRIC, Brazil, Rusia, India, dan
China (source: Bloomberg, Chinadaily, Juli 2009). Kita tidak akan menangisi zaman ini, kita akan membangkitkannya dengan semangat baru nasionalisme yang tinggi.
Dan,
orang-orang yang berjuang demi bangsa ini juga terus bertambah banyak.
Para patriot dan pejuang abad 21 yang akan melakukan apapun, demi
kebesaran nama bangsa ini. Dan salahsatunya yang paling berpengaruh,
tentu saja adalah bang Deddy Mizwar. Beliaulah diantara sedikit orang
yang mampu menjaga jiwa yang sangat penting itu, jiwa nasionalisme kita.
Nasionalisme Yang Paling Sukses
Prestasi
seorang Deddy Mizwar memang benar-benar spektakuler. Benar-benar sebuah
contoh, orang baik, yang sangat sukses. Dikenal sebagai aktor besar,
sukses secara kualitas maupun komersial, banyak mengumpulkan penghargaan
dan pujian, taat beribadah, dan mampu menjadi inspirasi bagi jutaan
orang Indonesia, bahkan sering jadi bintang iklan.
Ia telah
membintangi 75 judul film, 150 judul sinetron, dan berpuluh-puluh
penghargaan bermacam-macam jenisnya. Ia juga bahkan sudah menjadi Tokoh
Perubahan (Republika 2007) dan Tokoh Budaya (Harian Sindo 2008), dan
"Lifetime Achievement Award" dari MTV.
Film Naga Bonar yang
dibintanginya adalah sesuatu yang istimewa bagi bangsa ini. Hiburan yang
berkualitas tinggi, ringan dan menyenangkan, penuh humor yang membuat
kita tertawa, tapi sekaligus menyentuh, sarat dengan makna dan
inspirasi. Bersama Naga Bonar inilah, kita diingatkan kembali akan
nasionalsime kita. Kecintaan kita pada tanah air kita.
Dan yang
lebih istimewa lagi, film ini disukai banyak orang dan laris manis,
ditonton lebih dari 2,5 juta orang! Kita lihat bahwa sebenarnya bangsa
ini begitu rindu dengan nilai-nilai nasionalisme yang dulu membuat
bangsa ini besar dan dihormati.
Anda mungkin sudah menonton ”Naga
Bonar Jadi 2”. Anda juga pastinya masih ingat adegan yang sangat
menyentuh antara Naga Bonar dengan patung sang Jenderal Sudirman. Dalam
Naga Bonar dan Naga Bonar jadi 2, kita diingatkan betapa besarnya jasa
para pejuang kita dulu. Betapa mereka mengorbankan jiwa dan raganya
(termasuk Kopral Bujang), demi kemerdekaan kita.
Apalagi
perjuangan seorang pemimpin besar seperti Jenderal Sudirman. Waktu Naga
Bonar jalan-jalan di Jakarta naik Bajaj, sampailah ia di Patung Jendral
Sudirman. Ketika Naga Bonar melihat patung Sudirman memberi hormat ke
jalan raya yang hanya dilalui mobil-mobil roda empat, Naga Bonar jadi
trenyuh. Hatinya sakit. Kenapa Jenderal?
Kenapa seorang
Jenderal Besar seperti Sudirman memberi hormat ke mereka? Dan kenapa
bukan mereka, yang memberi hormat kepada Sudirman, yang sudah
mati-matian memerdekakan Indonesia? Kita ikut menangis karena Deddy
Mizwar menangis, bukan hanya Naga Bonar. Kita mempercayainya karena itu
bukan akting, melainkan juga suara hatinya sendiri.
Ada banyak
pelajaran dari adegan ini saja. Bahwa kita memang hampir melupakan
pengorbanan besar para pahlawan kita. Nyaris tidak ada lagi yang ingat
apa itu perjuangan ’45, dan Semangat ’45. Dan bahwa kita sekarang
seringkali lebih menghargai dan menghormati materi dibanding apapun,
bahkan nasionalisme kita sendiri, para pahlawan kita sendiri. Tapi
untunglah, masih ada Naga Bonar.
Siapa, Yang Membuat Kita mencintai Indonesia?
Siapa
di bangsa ini yang api nasionalismenya masih bisa membakar hati kita,
menggetarkan seluruh relung-relung kalbu ke-Indonesiaan, yang ada jauh
dalam lubuk hati kita. Tidak banyak. Hanya ada beberapa, dan
salahsatunya yang terbesar adalah Deddy Mizwar.
Dan beruntunglah
kita bangsa Indonesia, karena beliau mampu memberi inspirasi itu pada
banyak orang Indonesia sekaligus, beribu-ribu, bahkan jutaan orang.
Beruntunglah kita, karena tanpanya, dan tanpa karya-karya monumentalnya
yang abadi, rasa ke-Indonesiaan kita mungkin sudah makin melemah
jiwanya.
Tapi dengan Naga Bonar, bahkan anak-anak muda yang tidak
pernah mengalami masa perjuangan kemerdekaan Indonesia pun ikut mulai
mengerti. Bangsa ini didirikan dengan pengorbanan darah dan nyawa,
dengan jiwa kepahlawanan yang sangat heroik. Dan sekarang banyak
generasi muda Indonesia yang seperti ikut merasakannya.
Naga
Bonar, menjadi sangat berpengaruh karena sukses dalam banyak hal. Naga
Bonar memakai media yang populer, film. Seperti halnya buku, film bisa
menyentuh banyak orang sekaligus. Naga Bonar memakai bahasa cerita yang
ringan dan populer. Ini membuatnya bisa diterima banyak orang, dari
semua kalangan, terutama anak-anak muda yang membutuhkannya.
Dan
cerita Naga Bonar walaupun ringan berasal dari refleksi dan kontemplasi
yang dalam. Kontemplasi yang lalu menghasilkan inspirasi, yang lalu bisa
menyentuh hati banyak orang.
Dan dengan itu, Naga Bonar, dan Deddy Mizwar berhasil secara strategis menanamkan kembali jiwa nasionalisme Indonesia.
Keteduhan Agama, Kedamaian Hati
Dan
tidak hanya cukup satu. Tidak hanya nasionalisme, Deddy Mizwar juga
menjadi penjaga hati kita, spritualitas kita. Beliau mengingatkan kita
betapa nikmatnya mengaji dan melantunkan ayat-ayat Qur’an di masjid pada
sore hari. Sinetron-sinetronnya yang Islami, tidak hanya bermutu, tapi
juga yang sangat penting, disukai banyak orang.
Di sini beliau
juga menjadi seorang pejuang yang visioner. Dia melihat Indonesia perlu
sebuah tontonan yang baik, sesuatu yang menghibur tapi juga memberikan
tuntunan yang menyejukkan. Tapi pada awalnya para decision maker di
industri televisi tentu sulit menerima bahwa sinetron Islami bisa layak
tayang, artinya bisa dijual.
Tapi dengan keteguhan yang tinggi,
dengan keyakinan dan visi yang baik, beliau sukses meyakinkan bahwa
sinetron Islami bisa disukai masyarakat. Dan visinya terbukti. Dan
lahirlah hikayat Pengembara, Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan
sekarang, Para Pencari Tuhan.
Beruntunglah beliau, karena sebagai
orang yang berpengaruh, beliau pernah merasakan nikmatnya masjid sejak
kecilnya. Beliau tumbuh di lingkungan Betawi yang agamis. Sore-sore hari
yang tenang, adalah waktunya ngaji di masjid. Membaca ayat-ayat
Al-Qur’an bersama-sama teman-temannya adalah sesuatu yang membuat hati
jadi teduh dan penuh kedamaian.
”Ternyata kerja dalam film keagamaan itu lebih menyenangkan. Lebih tenang dan tidak fokus ke duit melulu.
Kalau kita berbuat baik, duit akan datang sendiri”.
Keistimewaan
Deddy Mizwar, baik dalam menularkan semangat nasionalisme dan agama,
adalah mampu menyampaikan sesuatu yang penting dengan ringan dan
sederhana, tapi tetap memiliki bobot, memiliki arti yang dalam. Kita
membagi ilmu, tidak perlu dengan menggurui, jangan pernah seperti orang
sempurna yang tidak pernah salah. Semangatnya adalah saling berbagi
kebaikan kepada sesama manusia. Dan Deddy Mizwar seperti orang-orang
genius yang mampu menerangkan hal-hal paling kompleks dengan sangat
ringan.
Seperti Sukarno yang bila menerangkan tentang
nasionalisme, maka semua orang dari atas sampai rakyat bawah bisa
memahaminya, dan tersentuh. Seperti Einstein saat menerangkan
Relativitasnya. Hanya orang-orang yang paling istimewa yang dianugerahi
Tuhan kemampuan seperti itu.
Nasionalisme Masa Depan
Bangkit itu, Susah …Susah melihat orang lain susah, Senang melihat orang lain senang
Bangkit itu Takut …
Takut untuk korupsi, Takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu Mencuri …
Mencuri perhatian dunia, dengan prestasi ..
Dengan
segala prestasi yang telah diraihnya, apa lagi yang kurang bagi seorang
Deddy Mizwar? Mungkin satu lagi, dan yang paling besar. Dia ingin
melihat bangsanya bangkit. Seperti kita semua ingin melihat Indonesia
bangkit kembali.
Dan untuk bangkit, kita hanya perlu mengingat kembali. Mengingat bahwa kita adalah bangsa besar, Bangsa Pejuang.
Para
Bapak bangsa kita, adalah para pemimpin-pemimpin terbesar di dunia.
Tidak banyak ada bangsa, sepanjang sejarah dunia yang sebesar Republik
Indonesia.
Karena kehebatannya mempersatukan
seluruh Indonesia, Sukarno di Amerika disebut sebagai Washington dan
Jefferson-nya Indonesia. Sukarno tidak disamakan dengan satu pemimpin
besar Amerika, tapi dua sekaligus. Mohammad Hatta di Jepang pernah
disebut sebagai "Gandhi of Java", dan menjadi tokoh yang sangat dikagumi
integritasnya.
Para pejuang kita dulu, adalah manusia-manusia
pemberani yang daya juangnya begitu hebat. Sedemikian hebatnya, sehingga
mampu membentuk salahsatu bangsa terbesar dalam sejarah dunia. Mereka,
dengan gagah berani mampu mengusir tentara-tentara terkuat dari
bangsa-bangsa terkuat di dunia. Kita adalah bangsa pejuang yang tidak
takut mati, bangsa yang akan berjuang habis-habisan demi kebesaran nama
bangsanya.
Dan kita adalah bangsa yang punya masa depan yang
cerah. Pada Juli 2009 kemarin, Indonesia diundang ikut dalam salahsatu
pertemuan paling eksklusif delapan bangsa-bangsa industri terkuat di
dunia, G8. Indonesia juga masuk ke dalam G20, bangsa-bangsa dengan
ekonomi terbesar yang total outputnya mencapai 85% ekonomi dunia.
Di
masa krisis global saat ini, hanya ada 3 bangsa di seluruh dunia yang
pertumbuhan ekonominya positif, dan diatas 4%, China, India, dan
Indonesia. Bahkan Amerika dan Jepang pun ekonominya tumbuh minus.
Sri
Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia, bahkan masuk dalam 100 Tokoh
wanita paling berpengaruh di seluruh dunia dari majalah Forbes, dan
perannya dalam menstabilkan ekonomi Indonesia dipuji-puji oleh dunia
(Newsweek, Januari 2009, ”
As Good As It Gets”).
Juni
2009, Morgan Stanley, lembaga keuangan bergengsi dunia menyatakan bahwa
Indonesia sudah pantas untuk masuk sejajar dengan BRIC, Brazil, Rusia,
China, dan India, bangsa-bangsa berkembang yang potensial menjadi
kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Ini terutama karena Indonesia telah
mempunyai politik dan demokrasi yang stabil. Demokrasi ini sangat
penting, karena memungkinkan kekuatan-kekuatan positif dan kreatif di
sebuah bangsa bangkit dengan kecepatan tertinggi.
Kata Morgan
Stanley, yang membuat Indonesia agak sedikit tertinggal dari
bangsa-bangsa BRIC yang lama, adalah kualitas pendidikannya yang sedikit
tertinggal. Tapi mungkin mereka perlu melihat prestasi Prof Yohanes
Surya. Baca disini,
Yohanes Surya, Menuju Indonesia Genius.
Kita
juga begitu beruntung karena punya banyak contoh teladan yang unggul.
Orang-orang yang benar-benar mencintai dan berjuang sekuat tenaga demi
kemajuan bangsa ini. Yang kita perlu lakukan hanya belajar dari mereka,
belajar dari yang terbaik. Kita belajar dari Sukarno, Hatta, Sudirman,
Bung Tomo, dan Deddy Mizwar, sang Naga Bonar yang penuh inspirasi.
Bila
kita sudah mampu membangun jutaan manusia-manusia yang unggul, cerdas,
dan memiliki kecintaan yang tinggi pada bangsanya, maka kita akan siap
untuk bangkit, siap untuk kembali menjadi bangsa yang kuat dan besar.