Jumat, 27 Januari 2012


ni foto Sigit Prasetyo, 2,5 tahun, yang tewas setelah ditabrak Xenia gila di Jakarta 22 Januari 2012 yang lalu. Bersama Sigit tewas pula 8 orang lainnya dan belasan orang lainnya luka berat. Di antara yang tewas itu ada ibu hamil 3 bulan dan empat orang yang masih satu keluarga dari Jepara.
Foto ini saya peroleh dari akun seseorang di Fesbuk. Melihat foto tersebut perasaan saya remuk redam dibuatnya, tidak kuasa saya menitikkkan air mata. Tidak tega melihatnya, terbayang anak-anak saya waktu seumuran dia. Pada foto di atas sang Ayah masih tidak sadar kalau anaknya sudah mati, dia terus mengecup anaknya. Di sekelilingnya mayat-mayat lain bergelimpangan. Benar-benar mengerikan!
Video amatir (tanpa sensor) yang merekam suasana setelah kecelakaan tadi lebih dramatis lagi. Tampak korban-korban yang bergelimpangan dan sebagian dinaikkan ke atas mobilpick-up. Si Ayah tadi waktu dinaikkan ke mobil pick-up masih terus menyodorkan botol susu pada anaknya sambil berkata mimik…mimik. Hati siapa yang tidak hancur melihatnya itu. Saya menulis ini saja sampai berlinang air mata membayangkan bocah malang itu.
Kalau mau melihat videonya, klik saja ini:
http://www.youtube.com/watch?v=Jy9pWZqh7s0
Saya tidak tega menayangkan cuplikan gambar video tersebut di sini.
Mau berkomentar apa lagi terhadap minuman keras, narkoba, dan kehidupan malam? Akibat minuman keras dan narkoba yang dipakai si supir maut Xenia itu — seorang perempuan bertubuh subur berusia 29 tahun –(beritanya baca di sini), tawa riang bocah malang ini tidak akan pernah terdengar lagi, berapapun hukuman yang pantas untuk si pembunuh itu.
Selamat jalan, Nak, engkau sekarang pasti sudah bermain dan berlari-lari di Taman Surga. Semoga Ayahmu dikuatkan dan ditabahkan hatinya karena kehilanganmu.
dan inilah puisi tentang hal itu 




Ayah...
terimakasih telah mengajakku ke Monas
aku belum pernah lihat Monas
senang sekali hatiku diajak ayah melihat Monas

... Pagi itu aku digendong ibu
kita jalan bersama ayah, nenek dan bibi
pagi yang indah
cuaca pun cerah
kita berjalan bersama menuju Monas

Kita semua bahagia
jarang sekali kita bisa jalan-jalan seperti ini
ayah sibuk mencari nafkah
aku sudah lama rindu ayah

Ayah
tiba-tiba kita lihat mobil hitam itu
melayang dari depan
menggelinding menimpa kakak-kakak itu
lalu menimpa kita semua
aku pun terpental
terlepas dari pelukan ibu

Ayah
maafkan aku mendahuluimu
aku masih sangat ingin bersamamu
ingin bermain denganmu
ingin berlama-lama dalam pelukanmu
tapi Allah lebih menyayangiku
Allah menginginkanku pulang...

Ayah
terimakasih sudah berusaha keras menyelamatkanku
terimakasih sudah mencoba memberiku minum
terimakasih sudah memelukku dan menciumku
aku sayang ayah sampai kapanpun

Ayah
kita akan berjumpa kembali di alam yang jauh lebih baik daripada alam dunia
See More....

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!